PEMBELAJARAN BERORIENTASI HOTS PEMANFAATAN BAHAN ALAM STIMULUS GENERASI CRITICAL AND CREATIVE THINKING
MEMANFAATKAN BAHAN ALAM DI SAWAH
- Proses Pembelajaran Berorientasi HOTS
Tema profesi petani diberikan selama 3 hari, profesi petani dipilih karena merupakan lingkungan yang lebih dekat dengan anak. Setiap hari mereka menyaksikan ayah ibunya berangkat kesawah untuk bercocok tanam. Lingkungan desa yang segar, aman dan nyaman sangat sesuai untuk tempat pembelajaran bagi anak didik.
Langkah langkah pembelajaran berorientasi HOTS
Proses pembelajaran tema petani berlangsung dalam tiga hari
1. Hari pertama : terjun langsung dilokasi persawahan untuk mengamati dan memperhatikan ciri ciri petani dan tempat kerjanya.
a) Pengetahuan awal
Melakukan percakapan dan Tanya jawab. Prakata dari guru masukkan PPK Pendidikan Karakter Religius, mensyukuri karunia Tuhan berupa alam yang indah. Anak diberikan stimulus dengan beragam pertanyaan apa, profesi itu, siapa petani itu, dimana tempat kerjanya, mengapa mereka bekerja, bagaimana cara bekerjanya,dan seterusnya. Hal ini dimaksudkan untuk menggali pengetahuan awal anak dan didiskusikan bersama. Masukkan karakter nasionalis untuk menghargai pendapat orang lain dalam diskusi. Guru tidak mengintervensi anak, peran guru sebagai mediator, fasilitator dan motivator.
Ketika anak mulai berpendapat dan masing masing menganggap pendapatnya yang paling benar, guru mengajak anak untuk mengunjungi persawahan di sekitar sekolah. Proses saintifik berjalan, anak mulai mengamati persawahan, melihat, menyentuh apa saja yang berada disana, siapa yang sedang bekerja, alat nya berupa apa, bertanya, menjawab, menalar, berpendapat dan mengumpulkan informasi secara spontan. Tugas guru tetap memberikan stimulus berupa pertanyaan pertanyaan tentang persawahan, sehingga anak dapat merespon dengan jawaban dan pendapat. Anak dan guru mulai membuat kesimpulan tentang petani dan persawahan dari pendapat masing masing anak dan kegiatan mengamati.
Guru mulai memberikan literasi baca tulis kepada anak, dengan cara mengucap/ membaca, mengeja huruf kosakata baru seputar petani dan persawahan. Kesimpulan telah dihasilkan, guru mengajak anak untuk mengkomunikasikan tentang apa yang di pelajari tentang petani, dengan membuat berbagai hasil karya dan keterampilan dari bahan alam yang bisa dibuat. Antara lain: menggambar sawah yang diamatinya, menghitung jumlah petani yang berada di sawah, meniru huruf dari kata s-a-w-a-h, p-e-t-a-n-i, membuat miniatur gubuk di sawah.
b) Proses sintifik
c) Mengkomunikasikan
3. Hari ketiga: berfikir kritis apa yang dapat di manfaatkan dari area sawah milik petani, selain menanam padi.
Anak diajak mengingat kembali apa saja yang ditemui saat berkunjung ke sawah di hari pertama. Pasti anak akan menyebutkan apa saja yang ditemuinya disawah. Guru menstimulus anak dengan pertanyaan apakah ada barang lain yang dapat dihasilkan dari sawah milik petani?
b) Proses saintifik
Guru memberikan penguatan, bahwa tembikar dapat menghasilkan uang, baik dijual ditoko, maupun dipasarkan secara online.
- Pembahasan
1. Transfer knowledge = Transfer pengetahuan, yaitu proses belajar suatu kelompok masyarakat berdasarkan pengalamannya. Transfer pengetahuan pada tingkat individu memiliki makna sebagai sebuah proses duplikasi pengetahuan dari sumber pengetahuan ke penerima. Disini guru merupakan pemberi pengetahuan kepada anak didik, dengan memafaatkan pengetahuan awal anak dan hasil pengamatan yang telah dilakukan.
a. Ranah Kognitif
a) Faktual, konseptual = pada kegiatan mengamati tanah persawahan milik petani dan menyebutkan ciri cirnya, sehingga anak dapat menggambarkannya kembali dalam suatu karya.
b) Procedural = pada kegiatan mengamati video proses mennam padi disawah, sehingga anak dapat menirukan kembali dalam kegiatan menyemai bibit pada miniature sawah yang disediakan guru
c) Metakognitif = guru mengajak anak untuk berfikir kritis bagaimana cara memanfaatkan sawah milik petani agar bias menghasilkan selain padi.
2) Proses kognitif, terdiri dari
a) C1= Mengingat, dalam kegiatan Tanya jawab dan bercakap cakap tentang pengetahuan awal dan hasil pengamatan anak.
b) C2= Memahami, anak diberikan stimulus untuk mencari tahu dalam berbagai hal yang berhubugan dengan kegiatan petani di sawah.
c) C3= Menerapkan mengaplikasikan, dalam kegiatan bermain dan belajar untuk mengkomunikasikan hasil pengamatannya.
d) C4= Menganalisis, anak mulai dapat beraktivitas yang terdiri dari serangkaian kegiatan seperti, mengurai, membedakan, memilah sesuatu untuk dikelompokkan kembali menurut kriteria tertentu dan kemudian dicari kaitannya tentang petani, sawah, alat alat, tembikar, dan android.
e) C5= Menilai/ mengevaluasi, kegiatan anak mencari solusi untuk menghasilkan nilai lebih dari manfaat bahan alam yang ada di sawah milik petani.
f) C6= Mengkreasi/ mencipta. Dalam kegiatan membuat berbagai hasil karya yang berhubungan dengan petani dan sawahnya antara lain, kolase, miniature gubuk, tembikar gambar, menanam, dan lain lain.
b. Ranah Afektif, terdiri dari
1) A1= Penerimaan, anak menerima informasi tentang cara kerja petani.
2) A2= Menanggapi, anak mulai memiliki pendapat tentang profesi petani
3) A3= Penilaian, anak menilai bagaimana cara menjadi petani yang baik
4) A4= Mengelola, anak memiliki cara tersendiri untuk menjadi petani yang sukses
5) A5= Karakterisasi, anak mulai memiliki ide untuk menjadi petani yang baik dan sukses
c. Proses Psikomotor, terdiri dari
1) P1 = Imitasi, kegiatan menirukan cara kerja petani
2) P2 = Manipulasi, kegiatan anak mengeksplorasi alat yang disediakan guru
3) P3 = Presisi, kegiatan anak memanfaatkan dengan tepat bahan dan alat dengan tepat
4) P4 = Artikulasi, kegiatan anak mengekspresikan keterampilannya dalam memanfaatkan bahan dan alat bermain
5) P5 = Naturalisasi, anak menjadi terbiasa untuk melakukan kegiatan bermain dengan benar.
2. Critical and creative thinking
a) F (fokus) = mengidentifikasi masalah dengan baik, anak diajak untuk mengamati bahan pembuat tembikar, mencampurkan tanah liat dan pasir, hingga adonan menjadi lembut
b) R (Reason) = alasan-alasan yang diberikan bersifat logis, anak berfikir kritis, mengapa adonan tanah liat belum lembut
c) I (Inference) = jika alasan yang dikembangkan adalah tepat, maka alasan tersebut harus cukup sampai pada kesimpulan yang sebenarnya, anak mulai dapat menambah dan mengurangi takaran tanah liat dan pasir yang harus dicampurkan
d) S (Situation) = membandingkan dengan situasi yang sebenarnya, ketika menambah bahan, anak mengerti akan kekurangan dan kelebihan bahan yang harus diperhatikan
e) C (Clarity) = Harus ada kejelasan istilah maupun penjelasan yang digunakan pada argumen sehingga tidak terjadi kesalahan dalam mengambil kesimpulan, anak mulai memahami cara kerja dari pembuatan tembikar.
f) O, (Overview) = Pengecekan terhadap sesuatu yang telah ditemukan, diputuskan, diperhatikan, dipelajari, dan disimpulkan. Jika adonan sudah lembut, maka anak dapat membuat hasil karya tembikar dengan baik.
3. Problem Solving: guru telah memberikan pertanyaan bagaimana cara memanfaatkan tanah sawah milik petani, adakah barang lain yang dapat dihasilkan dari tanah sawah petani, bagaimana cara membuat barang dari tanah liat yang diambil dari tanah sawah milik petani, dan lain lain.
b) Nasionalis = anak diajak untuk melestarikan buadaya berupa membuat kerajinan tembikar dari tanah liat
c) Mandiri = anak mampu menyelesaikan kegiatan bermain dan belajarnya dengan baik tanpa putus asa
d) Gotong royong= anak bekerjasama dalam bermain tanah liat (mengangkat, mengayak, mencampur dan membersihkan kembali)
e) Integritas= anak dapat meniru teladan dan keuletan petani pekerjaannya.
5. Gerakan Literasi Nasional /GLN
b) Numerasi = anak belajar menakar beras dengan tepat
c) Sains = kegiatan mencampur tanah dan pasir untuk membuat tembikar
d) Digital = anak melihat tayangan video/ gambar dari laptop/ android tentang pertanian
e) Finansial= anak dikenalkan dengan keuntungan memanfaatkan tanah liat menjadi barang yang menghasilkan uang.
f) Budaya dan kewarganegaraan= anak diajak untuk ikut melestarikan warisan budaya nenek moyang berupa profesi petani, dan kerajinan tembikar.
6. Kompetensi 4 C, telah dilaksanakan dalam rangka memecahkan masalah yang dihadapi dalam bermain dan belajar
Stimulus yang diberikan guru direspon anak dengan baik dan tepat. Pembelajaran yang bervariasi dan tidak monoton turut membantu perkembangan aspek kemampuan anak secara optimal. Kemampuan kognitif berkembang dengan baik karena guru menyajikan media dan alat belajar berupa bahan alam asli yang menunjang perkembangan berbagai aspek seperti presepsi, ingatan, pikiran, symbol, penalaran dan pemecahan masalah. Karena kognitif berkembang, maka diikuti dengan aspek lainnya antara lain, Nilai agama dan Moral, Sosial Emosional, Fisik motoric, Bahasa dan juga seni.
Komentar
Posting Komentar