PEMBELAJARAN BERORIENTASI HOTS PEMANFAATAN BAHAN ALAM STIMULUS GENERASI CRITICAL AND CREATIVE THINKING

 Oleh: Filailatut Tasrika, SPd.

MEMANFAATKAN BAHAN ALAM DI SAWAH

  1. Proses Pembelajaran Berorientasi HOTS
Pengembangan pembelajaran berorientasi HOTS, dilakukan di TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal 4 Lawang Pos 2 pada tema Profesi Petani. Letak geografis desa yang berada di kaki perbukitan dan ditengah persawahan, merupakan karunia terindah bagi TK kami. Segala kekayaan alam di sekitar sekolah dapat dimanfaatkan untuk sumber belajar, dan media pembelajaran. Karakteristik anak didik yang memiliki rasa ingin tahu yang besar, dapat tersalurkan di tempat ini. Kegiatan mengamati, mengeksplorasi, meneliti dan mencipta dapat dilakukan dengan memanfaatkan bahan alam di sekitarnya..
Tema profesi petani diberikan selama 3 hari, profesi petani dipilih karena merupakan lingkungan yang lebih dekat dengan anak. Setiap hari mereka menyaksikan ayah ibunya berangkat kesawah untuk bercocok tanam.  Lingkungan desa yang segar, aman dan nyaman sangat sesuai untuk tempat pembelajaran bagi anak didik.
Langkah langkah pembelajaran berorientasi HOTS
Proses pembelajaran tema petani berlangsung dalam tiga hari


1.      Hari pertama : terjun langsung dilokasi persawahan untuk mengamati dan memperhatikan ciri ciri petani dan tempat kerjanya.
Langkah langkah:
a)      Pengetahuan awal

Melakukan percakapan dan Tanya jawab. Prakata dari guru masukkan PPK Pendidikan Karakter Religius, mensyukuri karunia Tuhan berupa alam yang indah. Anak diberikan stimulus dengan beragam pertanyaan apa, profesi itu, siapa petani itu, dimana tempat kerjanya, mengapa mereka bekerja, bagaimana cara bekerjanya,dan seterusnya. Hal ini dimaksudkan untuk menggali pengetahuan awal anak dan didiskusikan bersama. Masukkan karakter nasionalis untuk menghargai pendapat orang lain dalam diskusi. Guru tidak mengintervensi anak, peran guru sebagai mediator, fasilitator dan motivator.

b).  Proses Saintifik

Ketika anak mulai berpendapat dan masing masing menganggap pendapatnya yang paling benar, guru mengajak anak untuk mengunjungi persawahan di sekitar sekolah. Proses saintifik berjalan, anak mulai mengamati persawahan, melihat, menyentuh apa saja yang berada disana, siapa yang sedang bekerja, alat nya berupa apa, bertanya, menjawab, menalar, berpendapat dan mengumpulkan informasi secara spontan. Tugas guru tetap memberikan stimulus berupa pertanyaan pertanyaan tentang persawahan, sehingga anak dapat merespon dengan jawaban dan pendapat. Anak dan guru mulai membuat kesimpulan tentang petani dan persawahan dari pendapat masing masing anak dan kegiatan mengamati.

c).  Mengkomunikasikan

Guru mulai memberikan literasi baca tulis kepada anak, dengan cara mengucap/ membaca, mengeja huruf  kosakata baru seputar petani dan persawahan.  Kesimpulan telah dihasilkan, guru mengajak anak untuk mengkomunikasikan tentang apa yang di pelajari tentang petani, dengan membuat berbagai hasil karya dan keterampilan dari bahan alam yang bisa dibuat. Antara lain: menggambar sawah yang diamatinya, menghitung jumlah petani yang berada di sawah, meniru huruf dari kata s-a-w-a-h, p-e-t-a-n-i, membuat miniatur gubuk di sawah.

2.      Hari kedua : mengamati bagaimana cara menanam padi, anak diajak mengamati video prosedur menanam padi, dan dipraktekkan.
a)      Pengetahuan awal
Bercakap cakap tentang cara/ proses menanam padi di sawah, guru memberikan stimulus dengan pertanyaan bagaimana cara menanam padi. Setelah terkumpul banyak pendapat dari anak guru menayangkan video cara menanam padi di sawah.

b)      Proses sintifik
Anak mengamati video proses menanam padi, alat yang dibutuhkan, siapa yang melakukan, bagaimana caranya, apa yang dihasilkan, bagaimana cara memanen dan seterusnya. Kemudian guru mengajak anak untuk membuat kesimpulan dari semua informasi yang dikumpulkan.

c)      Mengkomunikasikan
Anak disediakan beragam media bahan alam untuk bermain dan belajar antara lain, media miniature sawah, gabah, serta alat dan bahan untuk menanam padi, menakar beras dengan berbagai alat seperti sendok, gelas, centong, dan lainnya, membuat kolase dari biji beras yang telah dicampur dengan pewarna kue, menghubungkan gambar alat pertanian dengan tulisan yang sesuai. Guru memberi kesempatan kepada anak untuk memilih, mengamati dan mengeksplorasi semua bahan yang tersedia untuk bermain dan belajar.


3.      Hari ketiga: berfikir kritis apa yang dapat di manfaatkan dari area sawah milik petani, selain menanam padi.

a)      Pengetahuan awal
Bertanya jawab tentang apa saja yang dapat dihasilkan petani di sawah. Guru memberikan stimulus berupa pertanyaan apa, siapa, dimana, mengapa, dan bagaimana memanfaatkan sawah milik petani.
Anak diajak mengingat kembali apa saja yang ditemui saat berkunjung ke sawah di hari pertama. Pasti anak akan menyebutkan apa saja yang ditemuinya disawah. Guru menstimulus anak dengan pertanyaan apakah ada barang lain yang dapat dihasilkan dari sawah milik petani?

b)      Proses saintifik
Anak diberikan media dan bahan alam,  tanah liat dan pasir untuk bermain. Anak mulai mengamati bahan dan bertanya untuk apa ini. Guru menayangkan video/ gambar dari android tentang kerajinan tembikar/ gerabah. Anak mulai dapat menalar, dan mengumpulkan informasi dari tayangan video/ gambar tersebut. Setelah mendapat inspirasi, anak mulai bermain mencampur tanah liat dan pasir menjadi suatu adonan. Mulailah anak membentuk tanah liat menjadi bermacam macam bentuk.
 
c)       Mengkomunikasikan
Anak diberi kesempatan untuk menceritakan kembali apa yang sudah dilakukan dalam satu hari ini di sekolah, dengan bahasa mereka. bagaimana cara memanfaatkan bahan alam yang ada disawah, Bagaimana langkah membuat tembikar/ gerabah dan sebagainya.
Guru memberikan penguatan, bahwa tembikar dapat menghasilkan uang, baik dijual ditoko, maupun dipasarkan secara online.


  1. Pembahasan
TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal memberikan pembelajaran sesuai dengan prinsip belajar bagi anak didik, yaitu bermain sambil belajar dan belajar seraya bermain. Proses pembelajaran berorientasi HOTS telah dilakukan guru dan anak didik TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal 4 Lawang Pos 2, dengan memanfaatkan bahan alam sebagai medianya. Pemilihan tema petani sangat tepat, karena sesuai dengan karakteristik letak geografis sekolah. Langkah langkah pembelajaran berorientasi HOTS, telah terpenuhi antara lain:
1.      Transfer knowledge = Transfer pengetahuan, yaitu  proses belajar suatu kelompok masyarakat berdasarkan pengalamannya. Transfer pengetahuan pada tingkat individu memiliki makna sebagai sebuah proses duplikasi pengetahuan dari sumber pengetahuan ke penerima. Disini guru merupakan pemberi pengetahuan kepada anak didik, dengan memafaatkan pengetahuan awal anak dan hasil pengamatan yang telah dilakukan.

Guru telah melakukanTransfer Knowledge sebagai berikut:
a.       Ranah Kognitif
1)      Dimensi pengetahuan,
a)    Faktual, konseptual = pada kegiatan mengamati tanah persawahan milik petani dan menyebutkan ciri cirnya, sehingga anak dapat menggambarkannya kembali dalam suatu karya.
b)    Procedural = pada kegiatan mengamati video proses mennam padi disawah, sehingga anak dapat menirukan kembali dalam kegiatan menyemai bibit pada miniature sawah yang disediakan guru
c) Metakognitif = guru mengajak anak untuk berfikir kritis bagaimana cara memanfaatkan sawah milik petani agar bias menghasilkan selain padi.
2)      Proses kognitif, terdiri dari
a) C1= Mengingat, dalam kegiatan Tanya jawab dan bercakap cakap tentang pengetahuan awal dan hasil pengamatan anak.
b)   C2= Memahami, anak diberikan stimulus untuk mencari tahu dalam berbagai hal yang berhubugan dengan kegiatan petani di sawah.
c)  C3= Menerapkan mengaplikasikan, dalam kegiatan bermain dan belajar untuk mengkomunikasikan hasil pengamatannya.
d) C4= Menganalisis, anak mulai dapat beraktivitas yang terdiri dari serangkaian kegiatan seperti, mengurai, membedakan, memilah sesuatu untuk dikelompokkan kembali menurut kriteria tertentu dan kemudian dicari kaitannya tentang petani, sawah, alat alat, tembikar, dan android.
e) C5= Menilai/ mengevaluasi, kegiatan anak mencari solusi untuk menghasilkan nilai lebih dari manfaat bahan alam yang ada di sawah milik petani.
f)   C6= Mengkreasi/ mencipta. Dalam kegiatan membuat berbagai hasil karya yang berhubungan dengan petani dan sawahnya antara lain, kolase, miniature gubuk, tembikar gambar, menanam, dan lain lain.
b.      Ranah Afektif, terdiri dari
1)      A1= Penerimaan, anak menerima informasi tentang cara kerja petani.
2)      A2= Menanggapi, anak mulai memiliki pendapat tentang profesi petani
3)      A3= Penilaian, anak menilai bagaimana cara menjadi petani yang baik
4)    A4= Mengelola, anak memiliki cara tersendiri untuk menjadi petani yang sukses
5)  A5= Karakterisasi, anak mulai memiliki ide untuk menjadi petani yang baik dan sukses
c.       Proses Psikomotor, terdiri dari
1)      P1 = Imitasi, kegiatan menirukan cara kerja petani
2)      P2 = Manipulasi, kegiatan anak mengeksplorasi alat yang disediakan guru
3)      P3 = Presisi, kegiatan anak memanfaatkan dengan tepat bahan dan alat dengan tepat
4) P4 = Artikulasi, kegiatan anak mengekspresikan keterampilannya dalam memanfaatkan bahan dan alat bermain
5)      P5 = Naturalisasi, anak menjadi terbiasa untuk melakukan kegiatan bermain dengan benar.

2.      Critical and creative thinking
                 Elemen dasar tahapan keterampilan berpikir kritis, yaitu FRISCO;
a) F (fokus) = mengidentifikasi masalah dengan baik, anak diajak untuk mengamati bahan pembuat tembikar, mencampurkan tanah liat dan pasir, hingga adonan menjadi lembut
b) R (Reason) =  alasan-alasan yang diberikan bersifat logis, anak berfikir kritis, mengapa adonan tanah liat belum lembut
c) I (Inference) =  jika alasan yang dikembangkan adalah tepat, maka alasan tersebut harus cukup sampai pada kesimpulan yang sebenarnya, anak mulai dapat menambah dan mengurangi takaran tanah liat dan pasir yang harus dicampurkan
d) S (Situation) = membandingkan dengan situasi yang sebenarnya, ketika menambah bahan, anak mengerti akan kekurangan dan kelebihan bahan yang harus diperhatikan
e) C (Clarity) = Harus ada kejelasan istilah maupun penjelasan yang digunakan pada argumen sehingga tidak terjadi kesalahan dalam mengambil kesimpulan, anak mulai memahami cara kerja dari pembuatan tembikar.
f)  O, (Overview) = Pengecekan terhadap sesuatu yang telah ditemukan, diputuskan, diperhatikan, dipelajari, dan disimpulkan. Jika adonan sudah lembut, maka anak dapat membuat hasil karya tembikar dengan baik.

3.      Problem Solving: guru telah memberikan pertanyaan bagaimana cara memanfaatkan tanah sawah milik petani, adakah barang lain yang dapat dihasilkan dari tanah sawah petani, bagaimana cara membuat barang dari tanah liat yang diambil dari tanah sawah milik petani, dan lain lain.
 
4.      Penguatan Pendidikan Karakter / PPK
a)      Religious= Anak diajak untuk bersyukur atas karunia Tuhan berupa alam yang dapat menghasilkan padi untuk petani yang tentu bermanfaat bagi manusia lainnya.
b)  Nasionalis = anak diajak untuk melestarikan buadaya berupa membuat kerajinan tembikar dari tanah liat
c)   Mandiri = anak mampu menyelesaikan kegiatan bermain dan belajarnya dengan baik tanpa putus asa
d)  Gotong royong= anak bekerjasama dalam bermain tanah liat (mengangkat, mengayak, mencampur dan membersihkan kembali)
e)      Integritas= anak dapat meniru teladan dan keuletan petani pekerjaannya.

5.      Gerakan Literasi Nasional /GLN
a)      Baca tulis= guru memberikan kosakata yang berhubungan dengan petani
b)      Numerasi = anak belajar menakar beras dengan tepat
c)      Sains = kegiatan mencampur tanah dan pasir untuk membuat tembikar
d)   Digital = anak melihat tayangan video/ gambar dari laptop/ android tentang pertanian
e)  Finansial= anak dikenalkan dengan keuntungan memanfaatkan tanah liat menjadi barang yang menghasilkan uang.
f)    Budaya dan kewarganegaraan= anak diajak untuk ikut melestarikan warisan budaya nenek moyang berupa profesi petani, dan kerajinan tembikar.

6.      Kompetensi 4 C, telah dilaksanakan dalam rangka memecahkan masalah yang dihadapi dalam bermain dan belajar
Stimulus yang diberikan guru direspon anak dengan baik dan tepat. Pembelajaran yang bervariasi dan tidak monoton turut membantu perkembangan aspek kemampuan anak secara optimal. Kemampuan kognitif berkembang dengan baik karena guru menyajikan media dan alat belajar berupa bahan alam asli yang menunjang perkembangan berbagai aspek seperti presepsi, ingatan, pikiran, symbol, penalaran dan pemecahan masalah. Karena kognitif berkembang, maka diikuti dengan aspek lainnya antara lain, Nilai agama dan Moral, Sosial Emosional, Fisik motoric, Bahasa dan juga seni.

TERIMAKASIH TAK TERHINGGA 
KEPADA SEGENAP ANAK DIDIK DAN TEMAN SEJAWAT
DI TK 'AISYIYAH BUSTANUL ATHFAL 4 LAWANG 😍


"KAMI GENERASI MILENIAL YANG KRITIS DAN KREATIF"






Komentar

Postingan populer dari blog ini

3.1.a.4.1. Eksplorasi Konsep - Prinsip Pengambilan Keputusan

3.2.a.4. Eksplorasi Konsep - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya Pembelajaran 2.1

3.1.a.4.3. Forum Diskusi - Eksplorasi Konsep Forum Diskusi Eksplorasi Konsep